Menambang Data Dari Facebook, Instagram dan YouTube

Penulis: Arbi Sumandoyo

Jurnalisme Data---Keterbukaan informasi menjadikan kerja-kerja jurnalis di era digital saat ini jauh lebih mudah. Banyak platform yang bisa digunakan oleh para jurnalis dalam hal mencari data baik berupa angka, hasil penelitian bahkan memetakan lokasi dengan perangkat sumber terbuka. 

Di internet, semua data itu berlimpah dan tersedia dalam berbagai format yang sebenarnya bisa diolah oleh para jurnalis sebelum melakukan liputan ke lapangan dan memverifikasinya dengan berimbang. 

Banyak website resmi yang menyediakan data tersebut. Ada yang berbentuk siap unduh berupa format csv, excel ataupun pdf hingga json. Bentuk lainnya, bisa berupa foto atau video atau informasi verbatim yang bisa kita identifikasi menggunakan perangkat sumber terbuka. Apalagi penggunaan media sosial memungkinkan juga untuk para jurnalis untuk menambang informasi dari sumber tersebut. 

Dalam resep jurnalisme data kali ini, penulis akan memberikan sedikit contoh bagaimana melakukan penelusuran menggunakan sumber data terbuka dalam hal ini media sosial. Metode ini dipakai untuk mengidentifikasi titik-titik lokasi yang menjadi bahan dasar sebelum kita melakukan liputan lapangan dan memverifikasinya secara digital. 

Mengumpulkan Data Foto & Video Sebanyak Mungkin

Sosial media adalah tambang emas mengumpulkan foto dan video. Keakuratan informasi lewat foto dan video tentu lebih baik selain informasi verbal yang bisa kita dapat lewat pemberitaan media massa. Karena hal tersebut, riset visual menjadi kunci dalam konteks melakukan liputan atau penelusuran menggunakan sumber data terbuka atau investigasi Osint. 

Sebagai contohnya penulis melakukan pemetaan titik-titik lokasi pos-pos militer baik permanen maupun non permanen milik aparat (TNI/ Polri) dan juga TPNPB-OPM. Dalam konteks konflik di Papua, sebelum memulai melakukan pengumpulan foto dan video, yang pertama dilakukan adalah membatasi daerah yang akan diteliti. 

Tujuannya, selain memudahkan, pembatasan wilayah ini bertujuan mencari data lebih spesifik dan fokus. Dalam konteks mencari titik-titik lokasi ini media sosial disarankan adalah Instagram, Facebook dan YouTube. 

Pada kasus ini, penulis mengambil sampel hastag #IntanJaya, daerah yang menjadi titik panas konflik di Papua selama tiga tahun terakhir. 

Untuk menambang informasi di Instagram, kita bisa memakai tools berbasis Python yakni di sini. 

Mengapa menggunakan Instaloader?. Tools ini memudahkan kita mendownload otomatis foto atau video di Instagram. Untuk mendownload video dan foto, hal mungkin harus dilakukan adalah data tersebut melalui pencarian dengan menggunakan “hashtags”.

Dalam pencarian menggunakan hashtags ini, kita harus kreatif, misalnya memakai hastag yang muncul di media sosial seperti #SatgasNemangkawi atau #TPNPBOPM. 

Selain hashtags, kita juga bisa menggunakan “geotags”. Dengan geotags, pencarian akan lebih spesifik ke area lokasi yang kita kehendaki. Jika memakai tools Instaloader, penting sekali kita tahu terlebih dahulu kode angka “geotags” mau kita cari. 

Caranya masukan nama tempat yang akan kita akan cari, lalu akan muncul kode angka di dalam link instagram tersebut seperti contoh di bawah ini. 

Lalu angka geotags itu di copy ke dalam string Instaloader. Untuk mendapat akses crawl data geotags, Instagram mensyaratkan kita harus login dengan akun IG kita terlebih dahulu. String yang dimasukan kurang lebih seperti ini.

 

Ketik enter, maka otomatis mesin Instaloader akan menyimpan semua foto dan video yang ditag di kabupaten Intan Jaya ke dalam satu folder di komputer kita.

Jika tidak terbiasa melakukan proses crawling dengan tools berbasis python, kita bisa melakukannya secara sederhana dan manual. Bedanya, dengan melakukan manual, foto atau video tidak akan terunduh secara otomatis. 

Terkadang pencarian dengan sederhana akan lebih efektif, sebab seringkali data video atau foto yang kita cari redundant (berulang) akibat repost spam akun-akun tertentu. Dalam konteks riset konflik Papua, kunci riset hanya lewat “hashtags” dan “geotags”. 

Selain Instagram dan Facebook, sumber tambang informasi data lainnya adalah Youtube. 

Riset kunci di Youtube masih berkutat pada “geotags”, “hastags” dan “keyword”.  Untuk “hastags” dan “keyword” kita bisa memakai tools one-plus. Caranya cukup mudah, kita hanya perlu masuk dalam laman github one-plus lalu kemudian menggunakannya sesuai dengan kebutuhan untuk melakukan pencarian. Tidak hanya facebook, one-plus juga menyediakan pencarian dengan kata kunci hashtags pada media sosial lain, seperti Twitter, Instagram bahkan berselancar dengan google. 

Sedangkan untuk “geotags”, kita bisa memakai tools Youtube Geofinds. Pada tools ini dia akan mencari video dengan “geotags” kita sasar plus dengan fitur radius yang bisa kita atur sesuai kebutuhan. Namun demikian, kekurangan dari dua tools ini, yakni One Plus dan Youtube Geofinds ialah, keduanya tidak bisa mendownload video secara otomatis. 

Melakukan Titik Koordinat Foto dan Video.

Geolokasi adalah upaya mengidentifikasi lokasi geografis suatu objek. Kita mencari titik koordinat lokasi dimana foto atau video itu diambil. Tools dipakai pada tahap dua ini adalah tools yang berkaitan dengan pemetaan seperti Google Earth Pro, Bing Maps, Apple Maps, OpenStreetMap, Wikimapia dan Yandex Maps.

Analisa dengan bermacam tools penyedia map sangat penting. Sebab dalam beberapa kasus seringkali citra satelit Google tidak update atau kalah mutakhir dari Bing Maps atau Apple Maps. Seperti tertera peta Kab. Intan Jaya bawah. 

Prosedur penting dalam geolokasi adalah ekstraksi data. Kita perlu mengekstrak semua informasi dari gambar atau foto yang kita punya. Dalam proses ekstraksi ini, alih-alih menggunakan software, kejelian mata dan ketelitian kita sendiri menjadi kunci paling utama. 

Dalam geolokasi, setiap gambar harus diperlakukan sebagai gudang data mentah yang perlu dipilih dan diurutkan. Contoh seperti video yang menggambarkan markas TPNPB-OPM di bawah ini. Dari situ lalu muncul pertanyan-pertanyaan detil yang bisa menggambarkan lokasi markas tersebut. 

Pertama, ada berapa bangunan yang bisa diidentifikasi dalam video? 

Kedua, bagaimana letak denah bangunan itu dalam video?

Ketiga, adakah struktur kontur lain seperti jalan, lapangan, sungai lembah dll yang bisa diidentifikasi dari video?

Setelah melakukan itu, maka hal sederhana lanjutannya adalah dengan menandai objek yang bisa kita identifikasi.

Objek yang kita tandai itu dijadikan patokan dalam analisis peta dengan mindset bird view. Butuh kesabaran dan waktu cukup lama untuk menemukan satu titik yang akan dicari, namun ekstraksi data objek yang kita lakukan akan mempermudah pencarian itu dan mudah ditemukan. 

Selain menganalisa letak denah objek bangunan, identifikasi kontur alam pun sangat membantu kerja-kerja dalam mencari geolokasi. Perangkat yang bisa gunakan adalah dengan mengklik “terrain” pada Google Earth Pro. Selain google earth pro, kita juga bisa memakai aplikasi pendakian yaitu Peakvisor untuk mengidentifikasi kontur gunung. 

Seperti contoh penggunaan tools Peakvisor dari analisis video di bawah ini. Caranya kita bisa membuka Peakvisor, bisa dilakukan tanpa mendaftar dan mengunggah foto. Peakvisor akan mencarinya berdasarkan geolokasi yang tertera pada foto atau kita bisa mencarinya secara manual dengan mengubah settingan koordinat yang kita peroleh. 

 Menandakan Titik Koordinat Dengan Google Earth Pro

Semakin banyak foto dan video kita dapat, otomatis titik koordinat yang dikumpulkan semakin banyak. Google earth pro adalah perangkat sumber terbuka atau tools gratis yang bisa dipakai untuk menyimpan koordinat yang kita kumpulkan satu persatu. Caranya, kita perlu terlebih dulu masuk ke halaman google earth pro, lalu klik projek dan “add placemark” dan simpan icon pada koordinat yang sudah kita temukan.

 Setelah terkumpul semua maka kita akan bisa melihat titik koordinat yang kita kumpulkan berdasarkan foto dan video kita dapat dari sosial media seperti tangkapan layar di bawah ini. 

Data koordinat diatas adalah hasil yang kita akan peroleh dengan melakukan penelusuran menggunakan sumber data terbuka yang kita olah dari foto dan video dari platform media sosial yang kita gunakan. Titik lokasi itu akan jadi data yang mati jika tidak disisipi konteks. Itulah mengapa pentingnya memasukan informasi sekunder agar kita bisa mengeksplorasi titik koordinat ini menjadi cerita menarik. Informasi sekunder itu bisa dari manapun, baik itu artikel berita di media, ataupun wawancara masyarakat lokal. 

Kesimpulan

Meskipun sepele dan biasa, informasi foto dan video yang berserakan di media sosial bisa membuat kita sedikit memahami apa yang terjadi sebelum kita memverifikasinya ke lapangan. Meski begitu proses crawling data dan geolokasi pemberitaan konflik tidaklah mudah, butuh kesabaran dan ketelatenan saat melakukannya. Selamat mencoba.