Menelisik Jejak Emisi dari Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan Barat

Penulis: Aries Munandar

Jurnalisme Data--- Kebakaran hutan dan lahan merupakan bencana laten yang selalu muncul setiap tahun di Indonesia. Kalimantan Barat termasuk daerah merah atau rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Ada ribuan hektare lahan dan hutan terbakar setiap tahun di Kalimantan Barat.

Selain terhadap perekonomian dan kesehatan, kabut asap dari kebakaran hutan maupun lahan sudah pasti berdampak buruk terhadap kelestarian lingkungan hidup. Emisi, terutama karbondioksida yang terkandung pada kabut asap terakumulasi di udara sehingga membentuk gas rumah kaca. Gas rumah kaca dapat mengakibatkan pemanasan global, pemicu perubahan iklim dunia.

Berdasarkan kesepakatan Perserikatan Bangsa Bangsa, setiap negara harus mengupayakan suhu muka bumi tidak mengalami kenaikan lebih dari 2 derajat celsius dari sejak revolusi industri. Namun, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 2020 memprediksi suhu bumi akan naik sekitar 1-1,5 derajat celsius setiap tahun hingga lima tahun mendatang. Salah satu sektor penyumbang emisi terbesar di dunia ialah pengalihan lahan, pertanian, dan perhutanan, dengan kontribusi sebanyak 24% (kompas.com, 24 Juli 2020). 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan merilis emisi gas rumah kaca di Indonesia cukup fluktuatif selama 2010-2018, tetapi menunjukkan tren peningkatan setiap tahun. Sektor kehutanan, serta kebakaran hutan dan lahan menjadi menyumbang terbesar emisi gas rumah kaca di Indonesia pada 2018. Nilainya mencapai 723,51 Gg CO2e atau 44% dari total emisi gas rumah kaca di Indonesia (katadata.com, 23 Agustus 2021). 

Kasus kebakaran hutan dan lahan cenderung meningkat setiap tahun secara kualitas maupun kuantitasnya di Kalimantan Barat. Tingkat emisinya pun mengikuti tren tersebut.

Untuk memastikan tren dan keterkaitan kedua faktor itu, dibutuhkan sebuah analisis data. Data-data tersebut bersumber dan dan diolah dari http://sipongi.menlhk.go.id, sistem pemantau kebakaran hutan dan lahan berbasis internet, yang dikelola Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

Akses data

Portal  http://sipongi.menlhk.go.id menampilkan berbagai informasi mengenai kasus atau kejadian kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Data yang disajikan selalu diperbarui setiap saat, sesuai hasil penginderaan jauh atau citra satelit. Portal ini juga memublikasikan data agregat dan akumulatif dalam rentang waktu tertentu, semisal harian, bulanan dan tahunan. Mereka menyajikan pula beberapa infografis, data geospasial, foto peristiwa, serta informasi penting lain.

Tampilan beranda portal http://sipongi.menlhk.go.id  

Untuk melihat tren atau perkembangan kasus kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, salah satunya ialah mencermati luas lahan yang terbakar pada setiap tahun. Luas kebakaran tersebut dapat juga diketahui melalui portal http://sipongi.menlhk.go.id.

Cara mengaksesnya, arah kursos komputer ke Data & Grafik’ pada deretan menu utama portal http://sipongi.menlhk.go.id. Lalu, pilih ‘Luas Kebakaran’. 

Tahapan mengakses data luas kebakaran pada portal http://sipongi.menlhk.go.id

Selanjutnya, laman akan menampikan tabel Rekapitulasi Luas Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia. Tabel tersebut memuat angka luas kebakaran hutan dan lahan pada setiap provinsi selama 2016-2021.  

Tabel rekapitulasi luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia 2016-2021

Langkah serupa juga dilakukan untuk mendapat data emisi karbon dioksida akibat kebakaran hutan dan lahan di seluruh Indonesia. Arahkan kembali kursos kumputer ke ‘Data & Grafik’ pada deretan menu utama portal http://sipongi.menlhk.go.id. Pilih ‘Emisi CO2’, maka akan tampil tabel rekapitulasi emisi karbon dioksida dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia periode 2015-2021.

Rekapitulasi emisi karbon dioksida tersebut juga bisa diakses dengan mengklik ‘Emisi CO2’ pada kotak ‘Data dan Grafik’ di sisi kanan tabel rekapitulasi luas kebakaran hutan dan lahan. Sebaliknya, emisi karbon dioksida juga bisa diperoleh dengan mengklik ‘Emisi CO2’ pada kotak ‘Data dan Grafik’ di sisi kanan tabel rekapitulasi luas kebakaran hutan dan lahan. 

 Tabel rekapitulasi emisi karbon dioksida dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia 2015-2021

Supaya bisa dianalisis, kedua tabel rekapitulasi tersebut mesti dipindahkan ke google spreadshet. Untuk itu, buka peramban google chrome, arahkan kursor pada ikon deretan titik berkonfigurasi kotak, yang terdapat di pojok kanan halaman peramban. Klik, dan pilih menu sheets.


Tampilan pembuatan googgle spreadshet

Setelah spreadsheet tersedia, buka lembar kerja, dengan mengklik ‘Baru’ pada menu ‘File’. Lalu, pindahkan rekapitulasi luas kebakaran lahan ke spreadsheet tersebut, dengan menggunakan rumus =importhtml("http://sipongi.menlhk.go.id/hotspot/luas_kebakaran;"table";1). 

Kemudian, beri nama spreadshet dengan mengetikkan ‘Olah Data Karhutla dan Emisi’ pada kolom ‘Ganti Nama’ atau ‘Untitled Spreadsheet’. Beri juga nama baru untuk ‘Sheet1’ dengan mengklik kanan bagian tersebut, dan pilih ‘Ganti Nama’. Lalu ketik ‘Data Awal Karhutla’ untuk menganti nama ‘Sheet1’.

Hasil pemindahan data luas kebakaran hutan dan lahan 2016-2021

Setelah luas kebakaran hutan dan lahan, data emisi karbon dioksida juga dipindahkan dari portal http://sipongi.menlhk.go.id/hotspot/luas_kebakaran;"table";1). Namun, buat terlebih dahulu sheet baru, dengan mengklik tanda ‘+’ atau ‘Tambahkan Sheet untuk menempatkan pengaplikasian rumus pemindahan atau import data’. Tanda ‘+’ tersebut berada pada pojok kiri spreadsheet. 



Hasil pemindahan data emisi karbon dioksida dari kebakaran hutan dan lahan 2015-2020

Saat pemindahan atau import data, pastikan deretan rumusnya berwarna hijau, sebelum di-enter. Jika tidak, berarti terjadi kesalahan dalam penulisan rumus. Bukan deretan data yang muncul pada spreadsheet, melainkan keterangan seperti #Value!, #N/A, atau #ERROR!, dan sebagainya.  

Pembersihan data

Terdapat banyak simbol atau tanda baca tertentu pada data luas kebakaran hutan dan lahan maupun emisi karbon dioksida. Simbol tersebut berupa tagar (#), bintang (*), dan tanda penghubung atau minus (-).

Tampilan simbol atau tanda baca pada data awal luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia 

Keberadaan simbol atau tanda baca tersebut membuat data tidak terbaca sebagai angka, tetapi kata sehingga tidak akan bisa dianalisis. Ketika tanda minus (-) dihapus atau diganti secara manual, akan selalu muncul kembali. Adapun tagar (#) dan tanda bintang (*) ketika dihapus secara manual,  akan menghilangkan seluruh data pada tabel.

Untuk mengatasi hal tersebut, blok atau sorot seluruh data luas kebakaran hutan dan lahan. Lalu, klik kanan, dan pilih ‘Salin’ atau ‘Copy’. Kemudian, buat sheet baru pada spreadsheet yang sama. Setelah itu, klik kanan, pilih ‘Tempel Khusus’ atau ‘Paste Special’, dan klik ‘Tempel Nilai Saja’ atau ‘Value Only’.

Cara menyalin untuk membersihkan data bawaan

Selanjutnya, hapus tagar (#), dan tanda bintang (*) secara manual. Berbeda dengan kedua simbol tersebut, tanda minus (-) harus diganti dengan angka ‘0’, setelah dihapus. Itu supaya datanya terbaca sebagai angka, bukan tanda baca. 

Untuk memudahkan dan mempercepat pengubahan tersebut, klik menu “Edit’, dan pilih ‘Cari dan Ganti’, atau ‘Find and Replace’ sehingga muncul kotak dialog. Setelah itu, ketik tanda minus (-) pada kolom ‘Cari’, atau ‘Find’, dan ketik angka nol (0) pada kolom ‘Ganti Nama’ atau ‘Replace’. Selanjutnya, pilih ‘Sheet Ini’ pada kolom ‘Telusuri’’, klik ‘Ganti Semua’, dan klik ‘Selesai’.

Tahapan pengoreksian data

Hasil pengoreksian tersebut menghasilkan data yang bersih dari simbol atau tanda baca tertentu. Sheet yang data sudah dibersihkan itu kemudian diberi nama ‘Data Bersih Karhutla’. Ulangi seluruh tahapan pembersihan tersebut untuk data emisi karbon dioksida.

Hasil pembersihan data

Penggabungan data

Langkah berikut ialah menggabungkan ‘Data Bersih Karhutla’ dengan ‘Data Bersih Emisi’. Namun,  periode pengumpulan datanya harus diseragamkan terlebih dahulu. Data luas kebakaran hutan dan lahan berperiode 2016-2021, sedangkan data emisi karbon berperiode 2015-2021.

Karena itu, buang atau hilangkan kolom ‘2015’ pada ‘Data Emisi’, dengan mengklik kanan, dan pilih ‘Hapus Kolom’. Penghapusan dengan cara yang sama juga dilakukan terhadap kolom ‘2021’ pada ‘Data Karhutla’ maupun ‘Data Emisi’ karena datanya masih belum lengkap.

     

Langkah menghilangkan kolom pada tabel data

Setelah itu, blok tabel pada Data Bersih Emisi’, dan klik kanan. Kemudian, pilih ‘Salin’ atau ‘Copy’. Lalu, letakkan kursor komputer di ‘Sel A38’ pada sheet ‘Data Karhutla’, dan klik kanan. Pilih ‘Tempel Khusus’ atau ‘Paste Special’, dan klik ‘Tempelkan Nilai Saja’ atau ‘Value Only’. Maka, kedua data tersebut pun bergabung dalam satu sheet yang sama. 

Hasil penggabungan sheet

Analisis Data

Hasil penggabungan data tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan ‘Pivot Table’ atau ‘Tabel Pivot’. Untuk itu, blok seluruh data, kemudian  klik ‘Data’ pada menu utama komputer, dan pilih ‘‘Pivot Table’ atau ‘Tabel Pivot’. 

Setelah muncul kotak dialog ‘Buat Tabel Pivot’, pilih ‘Sheet Baru’ pada “Sisipkan ke’. Sebelum itu, pastikan sheet ‘Data Bersih Emisi Emisi’!A1:H36 termuat di kolom ‘Rentang Data’ pada kotak dialog tersebut. Lalu, klik tombol ‘Buat’. 

  

Membuat tabel pivot

Selanjutnya, layar komputer otomatis menuju “Sheet Tabel Pivot’ sebagai lembar kerja baru. Di situ akan muncul pula kolom, dan baris kosong, serta ‘Editor Tabel Pivot’ sebagai tampilan awal.

Papan ‘Editor Tabel Pivot’ memuat nama sheet beserta rentang data. Terdapat pula sejumlah saran tindakan penyuntingan, yakni ‘Baris’, ‘Kolom, ‘Nilai’, dan ‘Filter’.

     

Tampilan awal lembar kerja pada Tabel Pivot

Setelah itu, klik ‘Tambahkan’ pada pilihan Baris’, dan pilih 2016. Kemudian, kosongkan pilihan (hapus centang) pada kotak ‘Tampilkan Total’ dan ‘Ulangi Label Baris’ di bawahnya. Ulangi langkah serupa dengan memilih ‘2017’, ‘2018,’2019, dan ‘2020’ pada tombol ‘Baris’.

Memilih angka tahun sebagai baris pada tabel pivot

Karena hanya ingin menganalisis data luas kebakaran hutan dan lahan beserta emisi karbon dioksida di Kalimantan Barat pada 2016-2020, harus dilakukan penyaringan atau filter. Klik ‘Tambahkan’ pada pilihan ‘Filter’, dan pilih ‘Provinsi’. Kemudian, klik ‘Menampilkan Semua Item’, dan pilih ‘Kosongkan’ pada ‘Filter menurut Nilai’. Lalu, ketik ‘Kalimantan Barat’ pada kolom pencarian, dan klik tombol ‘Oke’.

Memfilter data Kalimantan Barat

Hasil akhir dari penyaringan tersebut hanya akan menampilkan data luas kebakaran hutan dan lahan serta jumlah emisi karbonnya di Kalimantan Barat. Datanya juga masih tersaji dalam bentuk baris dan kolom. Lalu, sisipkan kolom baru untuk memuat keterangan ‘Tahun’, ‘Luas Kebakaran’, dan ‘Emisi CO2’ pada ‘Sel A1’, ‘A2’, serta ‘A3’.

Data kebakaran hutan dan lahan serta jumlah emisi karbonnya di Kalimantan Barat 2016-2020

Supaya data bisa dianalisis lebih lanjut, sajiannya perlu diubah dari bentuk baris menjadi kolom. Untuk letakkan kursor kumputer pada ‘Sel A4’, dan terapkan rumus =TRANSPOSE(A1:F2). Selanjutnya terapkan pula rumus =CORREL(A5:A9;B5:B9) untuk memastikan korelasi luas kebakaran hutan dan lahan dengan jumlah emisi di Kalimantan Barat pada 2016-2020.

Hasil penerapan rumus transpose dan correl

Korelasi karhutla dengan emisi

Berdasarkan analisis data tersebut, diketahui luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat, sekitar 9.174 hektare pada 2016, dengan tingkat emisi sebesar 5.738.720 ton CO2e. Luas kebakaran tersebut menurun menjadi 7.467 hektare, dengan emisi 4.447.973 ton CO2e pada 2017.

Luas karhutla di Kalimantan Barat, kemudian melonjak hingga hampir 10 kali lipat pada 2018. Ada sekitar 68.422 hektare hutan dan lahan terbakar, dengan emisi sebesar 43.554.165 ton CO2e pada saat itu.

Luas karhutla tersebut selanjutnya menurun pada 2019 walaupun areal yang terbakar masih jauh lebih luas daripada 2017 dan 2016. Adapun luas kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat pada 2019 mencapai 151.919 hektare, dengan emisi sebesar 71.642.105 CO2e. 

Pada 2020 karhutla di Kalimantan Barat menurun drastis hingga menjadi 7.646 hektare atau kurang lebih sama dengan 2017. Adapun tingkat emisi akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat pada 2020 sebesar 2.159.837 CO2e. 

Luas karhutla di Kalimantan Barat pada 2016-2020 berdampak terhadap peningkatan akumulasi emisi karbon dioksida dalam lima tahun terakhir. Hal itu diketahui dari hasil penghitungan dengan menggunakan rumus koofisien korelasi. Nilai koofisien korelasi kedua faktor tersebut ialah sebesar 0,99. 

Berdasarkan kriteria korelasi, jika nilainya mendekati  ‘1’, berarti Variabel X, dan, Variabel Y memiliki korelasi erat atau kuat. Dengan demikian, luas (karhutla) di Kalimantan Barat pada 2016-2020 berberhubungan erat dengan peningkatan akumulasi emisi karbon dioksida dalam lima tahun terakhir.   

Visualisasi

Hasil analisis perlu divisualisasikan supaya lebih mudah dipahami awam, dan  menambah nilai estetika pada tampilan data. Visualisasi biasa disajikan melalui berbagai jenis dan bentuk diagram.

Proses visualisasi data bisa dilakukan langsung melalui tabel pivot. Caranya ialah blok ‘Sel A5:B9’ atau hasil transpose pada tabel pivot, dan klik ‘Insert’ atau ‘Sisipkan’ pada menu utama komputer. Kemudian, pilih ‘Diagram’ sehingga muncul diagram sebar atau scatter plot beserta papan atau kotak ‘Editor Diagram’. ‘Editor Diagram’ terdiri atas ‘Siapkan’, dan ‘Sesuaikan’ sebagai fungsi utama penyuntingan diagram.

 

Tampilan awal pembuatan diagram pada Tabel Pivot

Pastikan sel ‘A5:B9’ tercantum di kolom ‘Rentang Data’ pada Papan ‘Editor Diagram’ supaya tidak terjadi kesalahan dalam proses visualisasi. Pastikan juga ‘Luas Kebakaran’ sebagai ‘Sumbu x’, dan centang kotak ‘Agregat’ di bawahnya. Pastikan pula ‘Emisi CO2 tercantum pada ‘Rangkaian’, dan kemudian  pilih ‘Jumlah’ atau ‘SUM’ sebagai jenis agregat.

Tampilan awal Diagram Sebar ‘Karhutla dan Emisi Karbon di Kalimantan Barat

Langkah berikutnya, klik ‘Sesuaikan’ pada ‘Edit Diagram’, dan pilih ‘Judul Diagram & Sumbu’. Kemudian, ketik “Karhutla dan Emisi Karbon Dioksida di Kalimantan Barat’ pada ‘Teks Judul’. Setelah itu, klik ‘Judul Diagram’, pilih ‘Subtitel Diagram’, dan ketik ‘data tahun 2016-2020 memperlihatkan koefisien determinasi lebih dari >0,9 yang berarti memiliki hubungan sangat tinggi’ pada kolom ‘Teks Judul’ (‘Subtitel Diagram’). 

 

Pemberian judul dan keterangan subjudul pada diagram sebar

Untuk melihat kecenderungan atau tren luas kebakaran hutan dan lahan serta emisinya pada setiap tahun, klik ‘Rangkaian’ pada ‘Sesuaikan’. Kemudian, centang ‘Garis Tren’, dan centang pula ‘Label Data’ guna memunculkan nilai untuk setiap titik pada diagram.  Jika diaktifkan fungsi koefisien determinasi atau R square (R2) akan terlihat angka 0,974 yang berarti pengaruh variabel luas kebakaran hutan terhadap emisi CO2 di Kalimantan Barat sebesar 97 persen dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. 

Garis tren dan koefisien determinasi pada diagram sebar