Mengungkap Cerita Over Fishing Lobster di Laut Jawa Melalui Statistik KKP

Penulis: David Priyasidharta

Jurnalisme Data---Perairan Laut Jawa yang berada dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 712 mengalami overfishing atau kelebihan aktivitas penangkapan. Lobster, yang menjadi salah satu komoditas di wilayah ini, juga terancam habis jika eksploitasinya tidak dikendalikan. Seperti yang dikutip dari situs ini.

WPP 712 terdiri dari delapan wilayah administrasi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Lampung, Banten, dan Kalimantan Selatan dengan luasan wilayah perairan yang berbeda-beda antar provinsi. 

Luas wilayah perairan WPP 712 dibagi untuk masing-masing provinsi di WPP 712 sebagai wilayah daerah dihitung sejauh 12 mil dari garis pantai. Seperti diketahui, kondisi sumber daya ikan di WPP 712 saat ini berada dalam kondisi kurang baik. 

fully-exploited

Dalam resep jurnalisme data kali ini, penulis akan menceritakan over fishing di WPP 712 dengan sumber data terbuka KKP. Sebelumnya penulis telah menentukan hipotesanya yakni ‘Telah terjadi over fishing di delapan provinsi WPP 712 karena pengendalian penangkapan yang belum bisa dikurangi’.

Penulis menggunakan sumber data terbuka KKP untuk membuktikan hipotesa tersebut. Pembaca perlu mengetahui bagaimana overfishing lobster di WPP 712 itu dan apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah menghadapi persoalan tersebut.

Proses pencarian data Over Fishing lewat situs Statistik KKP
1. Pencarian Hasil Produksi Lobster

Sumber data terbuka KKP menyediakan sejumlah tools pencarian semua data terkait dengan statistik perikanan di Indonesia. Sumber data terbuka ini merupakan jendela untuk mengetahui, mengumpulkan, menyaring hingga menganalisa data tersebut.  

Pada tampilan depan website tersebut tersedia 14 tools pencarian data-data mulai dari Estimasi Potensi, Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan, dan Tingkat Pemanfaatan Sumber Daya Ikan di WPPNRI KKP, jumlah produksi ikan, jumlah kapal hingga data-data lain seperti angka konsumsi ikan dan daya. 

Tangkapan layar depan sumber data terbuka KKP

Hal pertama yang penulis lakukan dalam menulis resep data jurnalisme ini adalah mencari data jumlah Produksi Perikanan yang dihasilkan oleh delapan provinsi di WPP 712 untuk membuktikan memang terjadi over exploited Lobster di wilayah tersebut. Caranya :
 

  1. Membuka Produksi Perikanan

  2. Pilih pencarian data Provinsi

  3. Mengisi beberapa jenis kategori pencarian seperti jenis usaha, tahun, jenis ikan dan provinsi

  4. Jenis Usaha: Tangkap Laut

  5. Tahun: 2020

  6. Jenis Ikan: Lobster

  7. Provinsi: Centang Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Lampung

  8. Klik ‘SEARCH’

Tangkapan layar yang menunjukkan proses dari membuka menu data Produksi Perikanan di delapan provinsi di WPP 712

9. Download data Excel

10. Buka sheet baru di Google Drive

Tangkapan layar proses download dari Excel kemudian memindahkan ke Google Sheet

11. Copy enam kolom dengan cara menyorot table Excel kemudian paste ke Sheet tersebut dengan memberi nama ‘Hasil Tangkap Lobster di WPP 712 pada 2020’        

12. Membuat copy baru dengan menduplikasinya kemudian menghapus kolom yang tidak diperlukan hingga menjadi data bersih.

Tangkapan layar proses duplikasi ke sheet baru, dan menghapus sejumlah kolom yang tidak diperlukan sampai menjadi data bersih

13. Mengolah data dengan menjumlahkan kolom Volume Produksi 

Tangkapan layar hasil akhir Data Cleaning sehingga kemudian diperoleh jumlah total hasil tangkap lobster di delapan daerah provinsi di WPP 712

Ini tangkapan layar hasil pencarian data Produksi Perikanan di delapan provinsi di WPP 712

Seperti telah dijelaskan melalui gambar-gambar di atas, file Excel yang telah di-download itu di-copy penulis datanya dengan cara menyorot kolom-kolom dalam file Excel untuk ditempel (paste) ke Google Spreadsheet yang berisi data produksi lobster di delapan provinsi itu ke dalam sheet baru.

Penulis kemudian membersihkan beberapa kolom yang tidak diperlukan seperti kolom jenis usaha, jenis ikan, tahun dan nilai produksi. Pada kolom volume produksi, penulis kemudian menyorot satu persatu baris pada kolom volume produksi tersebut dan secara otomatis di kanan bawah layar komputer tertera jumlah total produksi lobster delapan provinsi di WPP 712 itu. Penulis kemudian menuliskan jumlah tersebut pada baris 11 di kolom volume produksi.   

Setelah penulis hitung, ditemukan data bahwa jumlah total produksi Lobster yang dihasilkan oleh delapan provinsi pada 2020 adalah 1.178,02 ton. 

Tangkapan layar memperlihatkan tahapan pembersihan data

2. Mencari Indikator Tingkat Pemanfaatan Lobster

Seperti diketahui bahwa Over Fishing di WPP 712 juga mengancam keberadaan dan persediaan lobster di wilayah perairan tersebut. Dengan mengetahui tingkat pemanfaatannya maka akan diketahui bagaimana keberadaan lobster itu. 

Bagaimana cara mencari indikator pemanfaatan lobster tersebut? Berikut langkahnya: 

  1. Membuka menu Estimasi Potensi, Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan, dan Tingkat Pemanfaatan Sumber Daya Ikan di WPP

  2. Mengisi dua jenis kategori pilihan yakni jenis WPP dan kelompok ikan

  3. Jenis WPP: WPP 712

  4. Kelompok Ikan: Lobster

  5. Klik ‘SEARCH’

  6. Download file Excel

Tangkapan layar proses scrapping data

Dari file Excel tersebut kemudian dilakukan Data Cleaning dengan terlebih dulu menyimpan data tersebut dalam bentuk Google Spreadsheet. Penulis kemudian memindah data Excel tersebut dengan cara menyalin ke Google Sheet berikut dengan keterangan yang menyebutkan ihwal sumber data, tahun dan tingkat pemanfaatannya.

Tangkapan layar proses pembersihan data tingkat pemanfaatan Lobster

Data estimasi potensi lobster atau sumber daya ikan (SDI) , jumlah tangkap yang dibolehkan (JTB) dan tingkat pemanfaatannya (E). Disebutkan kalau JTB berjumlah 791 ton, kemudian potensinya 989 ton dan tingkat pemanfaatannya E.  

Di bawah data tersebut juga dilengkapi sejumlah keterangan ihwal sumber data, jenis ikan dan indikator tingkat pemanfaatannya. Sumber datanya adalah Kepmen KP 50/2017, untuk jenis ikannya Pelagis Besar non Tuna Cakalang. Kemudian, pada indikator tingkat pemanfaatannya menunjukkan jika,  E < 0,5 = Moderate, upaya penangkapan dapat ditambah; 0,5 < E < 1 = Fully-exploited, upaya penangkapan dipertahankan dengan monitor ketat, sedangkan E >= 1 = Over-exploited, upaya penangkapan harus dikurangi. 

Pada tingkat pemanfaatannya, muncul angka 1.36, artinya komoditas tersebut masuk dalam kategori eksploitasi berlebih sehingga upaya penangkapannya harus dikurangi. 

Jika dibandingkan hasil pencarian penulis terkait data jumlah tangkapan lobster yang dihasilkan delapan provinsi di WPP 712 pada tahun 2020 yang berjumlah total 1.178, 02 ton, maka terbukti bahwa penangkapan Lobster di WPP 712 over-exploited. Karena, dengan jumlah tangkap yang dibolehkan sebanyak 791 ton, dan jumlah potensinya 989 ton, ternyata hasil tangkapannya sebanyak 1.178,02 ton. 

Dari data tersebut bisa diketahui ternyata pengendalian jumlah penangkapan Lobster di perairan laut Jawa atau WPP 712 belum bisa dikurangi.  Setiap data Excel yang dicopy paste secara manual dalam bentuk Spreadsheet ke Google Drive disatukan dalam satu dokumen

Proses Visualisasi Data Over Fishing

Membuat diagram hasil tangkapan lobster per provinsi di perairan laut Jawa atau WPP 712

Dalam melakukan visualisasi, penulis memanfaatkan tools Diagram-nya:

  1. Membuat akun dalam tools ini

  2. Dari Create New

  3. Setelah copy paste, antara angka dengan nama provinsi masih belum terpisah. Klik Proceed

  4. Tahapannya kemudian akan sampai pada Check & Describe, antara data angka dengan nama provinsi terpisah ke dalam kolom yang berbeda. Penulis melakukan pengecekan untuk memastikan data yang terupload sudah benar

  5. Klik Visualize, maka akan muncul tampilan bentuk diagram batang yang telah penulis pilih. Penulis kemudian melakukan pengaturan mulai dengan memberikan judul, membuat deskripsi

  6. Setelah itu klik Publish & Embed

Enam tangkapan layar dalam proses membuat grafik di Datawrapper hingga opsi Publish & Embed.

Pada proses akhir ini penulis akan mendapatkan link hasil pembuatan diagram batang tersebut sehingga bisa dipublikasikan pada laporan penulis.

Peluang dan Tantangan

Proses pembuatan resep data ini adalah bagian dari tahapan peliputan. Dengan memanfaatkan data terbuka, penulis merasa masih banyak hal yang perlu diketahui, dipelajari, dan ditelusuri lebih dalam. Upaya ini penting agar jurnalis mendapatkan latar belakang serta informasi sebanyak-banyaknya sebelum membuat perencanaan liputan. 

Selama proses pembuatan resep data ini, penulis merasa tidak menemui kendala berarti. Sumber datanya tersedia dan bisa diakses, kualitas datanya juga cukup baik sehingga dapat dipahami dengan mudah. Berkaca dari pengalaman pembuatan resep data ini, penulis merasa penelusuran terkait latar belakang dan informasi berupa data dapat mematangkan perencanaan liputan. Berdasarkan data yang sudah dikumpulkan dan dianalisa, penulis dapat melanjutkan upaya liputan dengan memperkirakan informasi lanjutan apa yang dibutuhkan. 

Setidaknya saat mencari dan mengonfirmasi narasumber atau otoritas terkait, penulis memiliki bahan pertanyaan yang cukup kuat berdasarkan penelusuran data dari sumber terbuka yang memang dikelola oleh badan publik. 

Menyoal tools yang membantu proses analisa dan pengolahan data, penulis merasa tertantang untuk mendapatkan informasi lebih terkait jurnalisme data. Banyak hal baru yang bisa dieksplorasi lanjut demi liputan yang lebih berkualitas.