Bencana Berulang dan Meningkat Karena Pembukaan Hutan
Jurnalismedata.id – Indonesia sering mengalami bencana secara berulang. Seperti banjir, kekeringan, kebakaran hutan, tanah longsor. Bahkan bencana ini cenderung meningkat setiap tahunnya.
Iklim Indonesia yang mengenal 2 musim, maka bencana dapat dikategorikan dalam 2 jenis yaitu hidrometrologi kering dan hidrometrologi basah. Banjir, tanah lonsor termasuk hidrometrologi basah. Sementara hidrometrologi kering adalah kekeringan, kebakaran hutan
Bencana yang berulang, sebenarnya bisa diantisipasi sehingga frekwensi dan dampaknya berkurang. Karena bencana-bencana ini mengikuti seiring datangnya musim. Misalnya banjir, maka bisa ditangani dengan memperbanyak tanaman atau kawasan hutan.
Namun di Indonesia yang terjadi sebaliknya. Misalnya kebakaran hutan sampai bulan Oktober 2023 sudah terjadi 721 kali. Ini naik 3 kali lipat dibandingkan tahun 2022 yang terjadi 252 kebakaran.
Salah satu faktor makin sering terjadinya bencana adalah daya dukung lingkungan yang menurun. Pembukaan hutan yang masif membuat bencana hidrometrologis kering maupun basah makin meningkat.
Di era Presiden Jokowi, sudah seluas 11,7 juta hektar hutan dibuka untuk lahan sawit atau tambang. Pembukaan hutan ini tidak hanya di era Presiden Jokowi, presiden-presiden sebelumnya juga ‘rajin’ mengeluarkan izin pembukaan hutan.
Siapa Presiden yang paling banyak mengeluarkan izin? Simak liputan di berita: Bencana Hidrometrologis dan Izin Korporasi di Indonesia